Pada Era industrialisasi ini, perkembangan remaja muslim sangat pesat. Seorang ilmuwan pernah mengatakan bentuk kebudayaan suatu negara dapat ditentukan oleh remajanya sendiri, pertimbangannya mereka pasti menjadi penggantinya. Akan tetapi, perkembangan tersebut dapat menjadi sesuatu yang negatif bagi Islam sendiri, karena berdasarkan teori sosiologi, logika dan sejarah, suatu masyarakat yang hidupnya tenggelam dalam arus industri, cenderung membentuk pemikiran yang sekuler dan atheisme, karena masyarakat sudah dapat memecahkan segala problematikanya. Ketergantungan mereka dengan tuhan yang menguasai alam agak berkurang.
Pada dasarnya,
ada dua hambatan yang dapat menyebabkan lepasnya keimanan remaja pada era
industri ini. Dua hal tersebut bersumber dari keremajaannya sendiri, dan
bersumber dari sosial budaya dan sosial ekonomi, khususnya yang ditimbulkan
oleh industrialisasi.
Yang bersumber
dari keremajaan meliputi :
1.
Kuatnya seksualitas
Kuatnya seksualitas dapat
mengarahkan seorang remaja muslim kepada zina, tentu saja hal ini dapat merusak
kehidupan dan masa depan remaja.
2.
Kuatnya semangat
Kuatnya semangat, selain
memberikan dampak positif, juga memberikan dampak negatif. Terkadang karena
terlalu semangat, seorang remaja dapat menjadi terlalu emosional dalam
menghadapi masalah.
3.
Kuatnya rasa ingin
tahu
Kuatnya keingintahuan juga dapat
mendorong remaja menuju perbuatan yang jelek, misalnya keingintahuan remaja
membuatnya menonton film “blue”, memakai narkoba dan sebagainya.
4.
Kurangnya ilmu
pengetahuan
Kurangya ilmu pengetahuan dan
pengalaman dalam memecahkan masalah dapat menyebabkan seorang remaja mengambil
keputusan yang salah ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan. Kebenaran
disalahkan dan sebaliknya suatu kesalahan dapat dibenarkan.
5.
Kurangnya pengenalan
diri
Remaja yang kurang mengenali dirinya
sendiri, masih dalam proses mencari jati diri, terkadang tanpa disadari dapat
merendahkan karya teman-temannya, bahkan karya para pakar. Hal ini tentunya
dapat merusak hubungan persaudaraan, tersebarnya fitnah dan perpecahan.
Yang bersumber
dari sosial budaya dan sosial ekonomi masyarakat industri ialah : bergesernya
nilai-nilai kebudayaan yang bernafaskan agama, berganti dengan nilai kebudayaan
yang berpijak pada materi. Ditinjau dari aspek psikologi, kehidupan masyarakat
industri cenderung memikat para remaja, karena didalamnya terdapat kebebasan
dalam melakukan segala hal. Idealisme agama bukan suatu yang menarik lagi,
minimal mereka hanya menjalankan agama pada sisi ritual-ritualnya saja,
sedangkan perhatian terhadap sosial, politik dan ketimpangan-ketimpangan sosial
diganti dengan egoisme, individualisme dan pengelompokan yang didasari oleh
kesamaan profesi.
Untuk
menghadapi hambatan-hambatan tersebut, remaja muslim perlu memiliki kepekaan,
kejelian dan kemauan keras untuk menentangnya. Dalam hal ini Allah telah
berfirman dalam surat Ali Imran ayat 196-197:
“Janganlah
kamu sekali-kali terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak di
dalam negeri. Itu hanya kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka
adalah jahannam dan jahannam itu adalah tempat yang paling buruk”.
Pemecahan tersebut ada tiga
prinsip yang harus diperhatikan, yaitu :
1.
Tidak terperdaya oleh
kebebasan orang kafir,
2.
Kesenangan yang terdapat
dalam kebebasan tersebut adalah kesenangan sementara, setelah itu mereka akan
disiksa,
3.
Bertaqwa, meskipun berat
pada awalnya, tapi akhirnya akan membuahkan kenikmatan yang kekal, yaitu surga.
Referensi: Buletin Ulul Albab
No. 08/Th.II/Oktober 1991



0 komentar:
Posting Komentar