Selasa, 27 Januari 2015

Tantangan dan Problematika Remaja Islam di Era Industrialisasi

03.33


Pada Era industrialisasi ini, perkembangan remaja muslim sangat pesat. Seorang ilmuwan pernah mengatakan bentuk kebudayaan suatu negara dapat ditentukan oleh remajanya sendiri, pertimbangannya mereka pasti menjadi penggantinya. Akan tetapi, perkembangan tersebut dapat menjadi sesuatu yang negatif bagi Islam sendiri, karena berdasarkan teori sosiologi, logika dan sejarah, suatu masyarakat yang hidupnya tenggelam dalam arus industri, cenderung membentuk pemikiran yang sekuler dan atheisme, karena masyarakat sudah dapat memecahkan segala problematikanya. Ketergantungan mereka dengan tuhan yang menguasai alam agak berkurang.
Pada dasarnya, ada dua hambatan yang dapat menyebabkan lepasnya keimanan remaja pada era industri ini. Dua hal tersebut bersumber dari keremajaannya sendiri, dan bersumber dari sosial budaya dan sosial ekonomi, khususnya yang ditimbulkan oleh industrialisasi.
Yang bersumber dari keremajaan meliputi :
1.       Kuatnya seksualitas
Kuatnya seksualitas dapat mengarahkan seorang remaja muslim kepada zina, tentu saja hal ini dapat merusak kehidupan dan masa depan remaja.
2.       Kuatnya semangat
Kuatnya semangat, selain memberikan dampak positif, juga memberikan dampak negatif. Terkadang karena terlalu semangat, seorang remaja dapat menjadi terlalu emosional dalam menghadapi masalah.
3.       Kuatnya rasa ingin tahu
Kuatnya keingintahuan juga dapat mendorong remaja menuju perbuatan yang jelek, misalnya keingintahuan remaja membuatnya menonton film “blue”, memakai narkoba dan sebagainya.
4.       Kurangnya ilmu pengetahuan
Kurangya ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam memecahkan masalah dapat menyebabkan seorang remaja mengambil keputusan yang salah ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan. Kebenaran disalahkan dan sebaliknya suatu kesalahan dapat dibenarkan.
5.       Kurangnya pengenalan diri
Remaja yang kurang mengenali dirinya sendiri, masih dalam proses mencari jati diri, terkadang tanpa disadari dapat merendahkan karya teman-temannya, bahkan karya para pakar. Hal ini tentunya dapat merusak hubungan persaudaraan, tersebarnya fitnah dan perpecahan.
Yang bersumber dari sosial budaya dan sosial ekonomi masyarakat industri ialah : bergesernya nilai-nilai kebudayaan yang bernafaskan agama, berganti dengan nilai kebudayaan yang berpijak pada materi. Ditinjau dari aspek psikologi, kehidupan masyarakat industri cenderung memikat para remaja, karena didalamnya terdapat kebebasan dalam melakukan segala hal. Idealisme agama bukan suatu yang menarik lagi, minimal mereka hanya menjalankan agama pada sisi ritual-ritualnya saja, sedangkan perhatian terhadap sosial, politik dan ketimpangan-ketimpangan sosial diganti dengan egoisme, individualisme dan pengelompokan yang didasari oleh kesamaan profesi.
Untuk menghadapi hambatan-hambatan tersebut, remaja muslim perlu memiliki kepekaan, kejelian dan kemauan keras untuk menentangnya. Dalam hal ini Allah telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 196-197:
“Janganlah kamu sekali-kali terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak di dalam negeri. Itu hanya kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah jahannam dan jahannam itu adalah tempat yang paling buruk”.
Pemecahan tersebut ada tiga prinsip yang harus diperhatikan, yaitu :
1.       Tidak terperdaya oleh kebebasan orang kafir,
2.       Kesenangan yang terdapat dalam kebebasan tersebut adalah kesenangan sementara, setelah itu mereka akan disiksa,
3.       Bertaqwa, meskipun berat pada awalnya, tapi akhirnya akan membuahkan kenikmatan yang kekal, yaitu surga.
Referensi: Buletin Ulul Albab No. 08/Th.II/Oktober 1991

Written by

Salah satu pelajar kelas XII IPA 5 di MAN 3 Kediri, yang sedang berusaha mencari ilmu setinngi-tingginya agar bisa bermanfaat bagi banyak orang.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Alfaruq Ant's Blog. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top