Rabu, 11 Februari 2015

“Donna Donna”, Sebuah Filosofi Hidup

05.36


            Mungkin beberapa di antara kalian sudah ada yang pernah menonton film Soe Hok Gie. Film tersebut bercerita tentang kehidupan seorang mahasiswa UI, yang juga menjadi aktivis di sekitar tahun 1965-1966. Dia adalah salah satu pemuda yang melawan keberadaan tirani di negeri Indonesia kala itu. Di dalam film tersebut, terdapat sebuah adegan dimana sekelompok orang berkumpul untuk mendengarkan musik dari salah satu mahasiswi bersuara merdu. Dan lagu yang dimainkan adalah Donna Donna, karya Joan Baez. Sebuah lagu yang memiliki makna yang sangat dalam. Kalau ada yang belum tahu, nih saya kasih liriknya.

Donna Donna
On a wagon bound for market
There’s a calf with a mournful eye
High above him there’s a swallow
Winging swiftly through the sky

{Chorus}
How the wind are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through,
And half the summer’s night
Donna, Donna, Donna, Donna, Donna, Donna,Donna, Don
Donna, Donna, Donna, Donna, Donna, Donna,Donna, Don

“Stop complaining!” said the farmer,
“who told you a calf to be?”
Why don’t you have wings to fly with,
Like the swallow so proud and free?”

{Chorus}
How the wind are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through,
And half the summer’s night
Donna, Donna, Donna, Donna, Donna, Donna,Donna, Don
Donna, Donna, Donna, Donna, Donna, Donna,Donna, Don

Calves are easily bound and slaughtered,
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom,
Like the swallow has learned to fly

{Chorus}
How the wind are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through,
And half the summer’s night
Donna, Donna, Donna, Donna, Donna, Donna,Donna, Don
Donna, Donna, Donna, Donna, Donna, Donna,Donna, Don

Kata Gie dalam film tersebut, lagu ini mempunyai pesan bahwa kita sebagai manusia tidak boleh menerima nasib buruk yang menimpa kita begitu saja. Kita tidak boleh pasrah dengan keadaan sebagaimana anak sapi, yang hidup hanya untuk dibunuh, hanya untuk dijadikan makanan dan tidak mempunyai kebebasan. Tapi, kita harus hidup layaknya burung, yang terus berjuang dengan belajar sehingga dapat mendapatkan kebebasannya.

Written by

Salah satu pelajar kelas XII IPA 5 di MAN 3 Kediri, yang sedang berusaha mencari ilmu setinngi-tingginya agar bisa bermanfaat bagi banyak orang.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Alfaruq Ant's Blog. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top