Rabu, 28 Januari 2015

Sholawatan, Antara Sunnah dan Bid’ah, Zuhud dan Hedonis

Sholawatan merupakan suatu ibadah ritual dimana jama’ahnya melantunkan dzikir dan sholawat kepada nabi supaya mendapatkan berkah dan mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diketahui kapan dan siapa yang pertama kali melakukan hal ini, namun hingga sekarang hal ini masih menuai pro dan kontra. Disini penulis hanya sekedar menjabarkan mengenai pendapat-pendapat mengenai hal tersebut dari dua sisi secara umum. Berikut penjelasannya.
Dalam suatu riwayat, Rasulullah bersabda “barangsiapa yang mengadakan hal yang baru di dalam urusan kami yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya ditolak”. Dari hadis inilah muncul suatu konsep yang bernama Bid’ah. Beberapa ulama mengatakan bahwa sholawatan merupakan suatu hal yang bid’ah, dan bid’ah adalah suatu kesesatan. Mereka selalu menyerukan untuk meninggalkan segala perkara yang bid’ah, karena hal tersebut dianggap dosa.
Namun di sisi lain, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan setiap bid’ah adalah sesat, yakni apa yang diadakan tanpa dalil padanya dari syari’at baik dengan jalan khusus maupupn umum. Karena dalil inilah, beberapa ulama menyatakan bahwa ada bid’ah yang tidak sesat, yaitu bid’ah yang tidak melanggar syari’at. Sholawat termasuk dalam hal yang tidak menyesatkan, karena menurut dalil Alqur’an, Allah memerintahkan manusia untuk bersholawat kepada Nabi.
Selanjutnya mengenai Sholawatan, termasuk perkara yang zuhud atau hedonis? Zuhud adalah perbuatan seorang hamba yang meninggalkan kesenangan dunia hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan hedonis adalah kebalikannya. Hedonis merupakan kegiatan yang bertujuan untuk bersenang-senang dan hura-hura semata. Kenapa penulis mengaitkan sholawatan dengan kegiatan yang hedonis?
Sholawatan seharusnya merupakan kegiatan yang sakral dan dilakukan dengan penuh kekhusyu’an karena didalamnya terdapat dzikir dan do’a. Akan tetapi, saat ini banyak sekali jama’ah majelis dzikir dan sholawat yang meninggalkan adab dan tata cara dalam sholawat itu sendiri. Mereka suka berhura-hura dan berjoget ria ketika melantunkan sholawat, persis seperti kaum bar-bar yang bersenang-senang sambil bernyanyi-nyanyi. Mereka seperti lupa akan isi dari sholawat itu sendiri. Bahkan, Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf dari  Solo, pernah menegur jama’ahnya supaya tenang dalam bersholawat, tidak joget-jogetan, tidak suit-suitan, tidak bertepuk tangan dan sebagainya. Beliau menghimbau agar tidak melakukan hal tersebut, supaya bisa dibedakan mana majelis dzikir dan sholawat dan mana yang majelis dangdutan.
Lalu bagaimana mengenai hukum dari sholawat itu sendiri. Bagaimana dengan sholawat sambil berjoget-joget itu? Sebenarnya, penulispun juga masih bingung mengenai hal tersebut dikarenakan dangkalnya ilmu yang dimiliki, akan tetapi salah satu guru di MAN 3 Kediri pernah mengatakan, segala sesuatu yang dilarang, hukumnya haram, kecuali ada beberapa hal yang dapat menyebabkan hal tersebut menjadi halal hukumnya. Yang boleh bisa saja menjadi tidak boleh, dan yang tidak boleh bisa menjadi boleh. Wallahu a’lam bis shawwab.

Selasa, 27 Januari 2015

Tantangan dan Problematika Remaja Islam di Era Industrialisasi


Pada Era industrialisasi ini, perkembangan remaja muslim sangat pesat. Seorang ilmuwan pernah mengatakan bentuk kebudayaan suatu negara dapat ditentukan oleh remajanya sendiri, pertimbangannya mereka pasti menjadi penggantinya. Akan tetapi, perkembangan tersebut dapat menjadi sesuatu yang negatif bagi Islam sendiri, karena berdasarkan teori sosiologi, logika dan sejarah, suatu masyarakat yang hidupnya tenggelam dalam arus industri, cenderung membentuk pemikiran yang sekuler dan atheisme, karena masyarakat sudah dapat memecahkan segala problematikanya. Ketergantungan mereka dengan tuhan yang menguasai alam agak berkurang.
Pada dasarnya, ada dua hambatan yang dapat menyebabkan lepasnya keimanan remaja pada era industri ini. Dua hal tersebut bersumber dari keremajaannya sendiri, dan bersumber dari sosial budaya dan sosial ekonomi, khususnya yang ditimbulkan oleh industrialisasi.
Yang bersumber dari keremajaan meliputi :
1.       Kuatnya seksualitas
Kuatnya seksualitas dapat mengarahkan seorang remaja muslim kepada zina, tentu saja hal ini dapat merusak kehidupan dan masa depan remaja.
2.       Kuatnya semangat
Kuatnya semangat, selain memberikan dampak positif, juga memberikan dampak negatif. Terkadang karena terlalu semangat, seorang remaja dapat menjadi terlalu emosional dalam menghadapi masalah.
3.       Kuatnya rasa ingin tahu
Kuatnya keingintahuan juga dapat mendorong remaja menuju perbuatan yang jelek, misalnya keingintahuan remaja membuatnya menonton film “blue”, memakai narkoba dan sebagainya.
4.       Kurangnya ilmu pengetahuan
Kurangya ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam memecahkan masalah dapat menyebabkan seorang remaja mengambil keputusan yang salah ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan. Kebenaran disalahkan dan sebaliknya suatu kesalahan dapat dibenarkan.
5.       Kurangnya pengenalan diri
Remaja yang kurang mengenali dirinya sendiri, masih dalam proses mencari jati diri, terkadang tanpa disadari dapat merendahkan karya teman-temannya, bahkan karya para pakar. Hal ini tentunya dapat merusak hubungan persaudaraan, tersebarnya fitnah dan perpecahan.
Yang bersumber dari sosial budaya dan sosial ekonomi masyarakat industri ialah : bergesernya nilai-nilai kebudayaan yang bernafaskan agama, berganti dengan nilai kebudayaan yang berpijak pada materi. Ditinjau dari aspek psikologi, kehidupan masyarakat industri cenderung memikat para remaja, karena didalamnya terdapat kebebasan dalam melakukan segala hal. Idealisme agama bukan suatu yang menarik lagi, minimal mereka hanya menjalankan agama pada sisi ritual-ritualnya saja, sedangkan perhatian terhadap sosial, politik dan ketimpangan-ketimpangan sosial diganti dengan egoisme, individualisme dan pengelompokan yang didasari oleh kesamaan profesi.
Untuk menghadapi hambatan-hambatan tersebut, remaja muslim perlu memiliki kepekaan, kejelian dan kemauan keras untuk menentangnya. Dalam hal ini Allah telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 196-197:
“Janganlah kamu sekali-kali terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak di dalam negeri. Itu hanya kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah jahannam dan jahannam itu adalah tempat yang paling buruk”.
Pemecahan tersebut ada tiga prinsip yang harus diperhatikan, yaitu :
1.       Tidak terperdaya oleh kebebasan orang kafir,
2.       Kesenangan yang terdapat dalam kebebasan tersebut adalah kesenangan sementara, setelah itu mereka akan disiksa,
3.       Bertaqwa, meskipun berat pada awalnya, tapi akhirnya akan membuahkan kenikmatan yang kekal, yaitu surga.
Referensi: Buletin Ulul Albab No. 08/Th.II/Oktober 1991

Sabtu, 24 Januari 2015

Kuliah, Buat Apa?

Masa SMA merupakan masa yang tak terlupakan. Entah itu karena banyak bercandanya, banyak sengsaranya gara-gara jadi aktivis di sekolah atau karena kejahilan teman-teman yang sangat gokil. Tetapi, salah satu hal yang sangat berpengaruh bagi kehidupan kita di masa ini adalah waktu kelas XII. Mengapa demikian? Karena pada saat itu kita lagi galau-galaunya mikirin masa depan kita. Mau jadi apa kita di masa depan, setelah lulus harus lanjut kemana, kuliah ngambil jurusan apa, itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul pada diri kita.

Banyak dari kita yang ngotot banget untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, dengan dalih ingin dapat gelar sarjana, ingin pekerjaan yang mapan, dan ingin menjadi kaya raya. Emangnya, setelah dapetin itu semua, kamu mau ngapain? Fakta menunjukkan, tidak semua sarjana dapat meraih kesuksesan begitu juga sebaliknya. Misalnya Presiden Joko Widodo,Ridwan Kamil (walikota Bandung), Samsul Azhar (walikota Kediri), Susi Pudji Astuti (Menteri Kelautan), Mark Zuckerberg (Founder Facebook), antara program studi yang mereka ambil dan profesi yang mereka jabat sangat berbeda, bahkan beberapa diantara mereka bukanlah sarjana tetapi mereka dapat meraih kesuksesan.  Dari sini akan muncul suatu pertanyaan, lantas untuk pakah kuliah itu? Disini saya mau membuka sudut pandang lain mengenai fungsi dari kuliah itu sendiri.

Menurut beberapa referensi yang saya baca, salah satu fungsi dari kuliah adalah sebagai sarana pendidikan guna mendewasakan mindset atau pola pikir kita. Ketika kita masih SMA, mungkin kebanyakan dari kita masih mempunyai pola pikir yang kekanak-kanakkan. Oleh karena itu, ketika kita kuliah, kita akan dilatih untuk menghadapi masalah-masalah, cara berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita, mengatur skala prioritas dan lain sebagainya. Semua itu akan sangat kita butuhkan ketika kita sudah memasuki dunia kerja dan masyarakat nanti.

Kemudian yang kedua, sebagai usaha kita dalam mempelajari fenomena-fenomena yang terdapat di alam ini, guna mencari solusi untuk memecahkan segala bentuk permasalahan yang ada. Ketika kita kuliah nanti, salah satu tolak ukur kelulusan kita adalah tugas akhir yang bernama skripsi. Waktu itu, kita harus melakukan penelitian yang dapat dijadikan sebagai solusi atas suatu permasalahan.

Dan yang terakhir adalah sebagai sarana untuk melatih skill kita. Memang sih sebenarnya tanpa kuliah pun skill kita juga bisa meningkat. Tapi nilai plusnya adalah ketika kita kuliah, kita tidak hanya mendalamai hal-hal yang praktis, tetapi juga mendalami hal-hal yang teoritis, sehingga dari situ kreatifitas kita juga akan berkembang, kita bisa menemukan inovasi-inovasi yang baru untuk memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat.

Kesimpulannya, kuliah bukanlah sarana untuk menggapai suatu pekerjaan yang mapan, melainkan sebuah proses pendewasaan pola pikir dan sarana melatih skill kita dalam mencari jalan keluar atas suatu masalah, demi membangun/mengabdi kepada masyarakat. Sebnarnya tanpa kuliah pun kita masih bisa melakukan hal tersebut, akan tetapi jika kita tidak bisa atau kesulitan mempelajari sesuatu secara otodidak, masih belum biasa menghadapi konflik, belum peka terhadap masalah-masalah, sebaiknya kita ambil saja kuliah di salah satu perguruan tinggi dan rasakanlah manis pahitnya kehidupan.

Minggu, 18 Januari 2015

Prolog : Tak Kenal Maka Tak Ajak Kenalan


Sebelumnya salam kenal dari saya. Alhamdulillah akhirnya saya dapat membuat blog, meskipun sangat sederhana dan banyak kurangnya, yang penting ada usaha. Perkenalkan juga, blog ini bernama Furq-Ant, atau Alfaruq Ant, berisi tentang beberapa informasi yang mungkin berguna bagi antum. Mungkin antum bertanya-tanya, kok namanya aneh banget, memang maksudnya apa? Berikut penjelasannya:
Al-Faruq Ant, berasal dari dua kata dari dua bahasa yang berbeda. Al-Faruq mempunyai arti yang membedakan, sedangkan Ant dalam bahasa inggris memiliki arti semut. Kenapa author memilih nama semut dan kenapa harus memiliki sifat “yang berbeda”? Berikut penjelasannya.
Sebagai umat muslim, tentu kita sudah tidak asing dengan beberapa surat yang memiliki nama-nama hewan seperti surat Al-Baqarah (Sapi), An-Nahl (Lebah), Al-Ankabut (Laba-laba), dan surat An-Naml yang memiliki arti semut. Kenapa hewan sekecil itu mendapat penghormatan yang tinggi dari tuhan sehingga disebutkan dalam firman-Nya?
Menurut penelitian, semut merupakan serangga yang eusosial. Artinya semut memiliki sistem sosial atau strata dalam koloninya. Dalam dunia semut, strata tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu semut pekerja, semut jantan, dan ratu semut. Sistem tersebut menyerupai sistem yang ada pada manusia dimana didalamnya ada unsur sipil (semut pekerja), unsur militer (semut jantan) dan ada seorang pemimpin. Oleh karena hal tersebut, penulis mengumpamakan dirinya dengan seekor semut.
Selanjutnya adalah kata “Al-Faruq” yang memiliki arti yang berbeda. Dalam agama Islam, kata Al-Faruq sendiri selalu dikaitkan dengan pembedaan antara yang haq dan bathil. Tetapi disini, author mengaitkannya dengan sudut pandang yang berbeda dari umumnya. Istilah kerennya “out of the box”. Jadi disini penulis mempuyai tujuan untuk mengangkat hal-hal yang jarang sekali dibahas, jarang dipikirkan banyak orang, dan yang jelas berbeda dari biasanya.
Itulah asal-usul nama dari blog ini. Alfaruq Ant, yang mempunyai makna seekor semut yang berbeda, yang biasanya semut itu berjalan dengan berbaris mengikuti temannya, tetapi ia mampu berjalan sendiri melawan arus, karena dia adalah semut yang berbeda. Tapi jika antum merasa keberatan atau tidak suka dengan nama ini, mohon dimaafkan.

Sekedar Tahu

 

© 2013 Alfaruq Ant's Blog. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top